Belajar dari Filosofi Kupu-Kupu

Belajar dari Filosofi Kupu-Kupu
Februari 7, 2015 No Comments Hikmah admin
hikmah dari kupu kupu
hikmah dari kupu kupu

Identitas cantik dan menawan memang selalu melekat pada hewan ini. Kupu-Kupu namanya. Sayapnya yang berwarna-warni dan gerakannya membuat siapa saja yang melihatnya menjadi tersenyum. Apalagi jika sang kupu-kupu terbang di taman bunga, semakin indah dan cantik saja dirinya.

Dibalik keindahan dan kecantikan yang dilihat, banyak yang tidak mengetahui. Bahwa kupu-kupu harus melewati tahap perjuangan yang sangat sulit.

Tahap pertama adalah menjadi telur. Nyawanya saat itu ditangguhkan. Antara menetas dengan sempurna atau pecah karena faktor alam seperti hujan, angin, dll. Betapa telur hanya bisa berjuang di tengah ketidakberdayaannya dan sangat bergantung pada daun yang ditempelinya.

Setelah menetas, muncullah ulat. Dalam fase ini, ulat hanya memakan dedaunan agar dapat bertahan hidup. Dia juga sering berganti kulit. Pada saat pergantian kulit, ulat harus berhenti makan layaknya orangnya yang sedang berpuasa.

Menjadi ulat tidaklah mudah, malah sangat menyakitkan. Dia selalu dibenci, dijauhi, bahkan dibunuh tanpa melakukan kesalahan apapun. Tak ada yang mau mendekatinya. “Menjijikan” adalah label yang harus disandang oleh seekor ulat.

Setelah fase ini, maka fase selanjutnya adalah menjadi kepompong. Ini adalah fase berisitirahat. Kepompong menggantungkan hidupnya pada tanaman yang ditempelinya. Fase ini berlangsung selama berhari-hari. Ada perubahan yang sangat luar biasa terjadi dalam diri kempompong akibat perubahan hormon. Di dalam kepompong ini, benar-benar terjadi persiapan yang sangat besar untuk menghadapi puncak kehidupan yang akan segera hadir.

Setelah menunggu beberapa lama dan merasa benar-benar siap menghadapi puncak, bagian kulit terluar seekor kepompong akan berganti waran sesuai dengan warna sayapnya ketika menajadi kupu-kupu. Secara perlahan, kulitnya pun mengelupas dan hadirlah sang bidadari taman bunga yang paling indah. Saat pertama kali melihat dunia, tubuhnya memang masih sangat lemah, sayap-sayapnya pun masih mengkerut, melipat dan basah.

Seiring berjalannya waktu, sang kupu-kupu berubah dari lemah menjadi kuat. Sayapnya sudah bisa dilebarkan dan sudah bisa terbang kesana kemari sekitar taman bunga.Dia banyak membantu tanaman dan mempunyai peran penting dalam penyerbukan bunga. Dia juga memiliki kesan yang indah di mata manusia, bahkan banyak yang menyukainya -tidak seperti saat ia menjadi ulat.Sangat disayangkan, umur sang kupu-kupu tidak lama. Walau begitu selama hidupnya telah memberikan banyak jasa pada kehidupan ini.

Sekarang, mari kita lihat kehidupan kita masing-masing. Kita serap kisahA� ini dan renungkan. Apakah ada yang pernah merasa ‘menjadi’ ulat? Dihina, dilecehkan, dijauhi, dan lain sebagainya, ada yang pernah mengalaminya? Adakah yang merasa harus beristirahat sejenak seperti kepompong dan melewati masa-masa paling tidak mengenakkan dalam hidup, contohnya pada saat terpuruk. Ingatlah, dalam menjalani kehidupan ini, kita hanya perlu tekun, bersabar dan tidak putus asa saat memulai sesuatu dari awal. Pasti akan ada banyak penderitaan yang akan dilalui layaknya ulat. Akan ada waktunya kita untuk ‘istirahat sejenak’ layaknya kepompong. Tapi ingat dan tanamkan dalam hati bahwa akan ada waktunya kita untuk ‘sukses’ layaknya sang kupu-kupu yang banyak disenangi orang-orang.

Terus berdoa, berikhtiar, dan bertawakal pada Allah..

Karna dibalik semua penderitaan akan ada kejutan yang ingin diberikan-Nya untuk kita..

Subhanallah 🙂

=========================================

Info : Yang mau berdonasi untuk anak yatim silahkan klik disini

Santunan untuk anak yatim
SedekahA�untuk anak yatim

Tags
About The Author

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat